Pada saat ini banyak sekali orang tertarik untuk menjadi penulis. Bagi kami, pihak penerbit, itu terlihat dari jumlah naskah yang masuk ke sekretariat redaksi setiap bulannya. Memang, kalau seseorang berhasil menuangkan pemikirannya, dan itu menjadi sesuatu yang dibaca banyak orang, apalagi jika berguna bagi orang lain, tentu nilainya bukan hanya masalah finansial, tetapi juga kepuasan batin, karena kita jadi terkenal dan jadi kebanggaan keluarga.
Keuntungan lain yang diperoleh mereka yang berhasil sebagai penulis bukan hanya karya mereka dinantikan banyak orang, tapi juga terbukanya pintu ke profesi lain yang tentunya juga berhubungan dengan tulis-menulis. Banyak penulis fiksi yang karyanya dibeli production house untuk dituangkan dalam bentuk cerita sinetron ataupun film layar lebar. Bahkan kemungkinan besar si pengarang tersebut pun akan ditawari menjadi penulis skenario. Mula-mula mungkin mereka diminta membuat skenario untuk karya-karya mereka sendiri, tapi biasanya akan berlanjut diminta menulis skenario untuk karya-karya orang lain atau menulis skenario pesanan.
Ada 3 jenis naskah yang bisa lolos seleksi editor:
1. Naskah yang memang sudah bagus/baik luar dan dalam.
Artinya, judulnya bagus, pengarangnya sudah terkenal, isinya juga sudah rapi, bahasanya bagus, tidak memerlukan banyak copyediting & editing; gaya berceritanya enak, tidak lamban atau bertele-tele, tidak membosankan. Biasanya naskah-naskah yang langsung diterima seperti ini adalah naskah-naskah pengarang senior. Jam terbang sebagai penulis menjadi salah satu sebab.
2. Naskah yang isinya bagus, tapi masih memerlukan copyediting.
Banyak juga naskah-naskah dari pengarang senior yang memerlukan copyediting walaupun jam terbang mereka sudah tinggi.
3. Naskah yang isinya lumayan, tapi banyak editing maupun copyediting.
Bisanya ini naskah pengarang pemula. Ada dua jenis naskah pemula. Naskah yang hanya dibaca satu editor dan editor yang bertugas mengatakan naskah ini bagus, hanya perlu editing dan copyediting. Kedua, naskah yang dibaca oleh lebih dari satu editor. Ini disebabkan editor yang pertama tidak yakin, naskah ini lolos seleksi atau tidak. Jadi perlu pendapat dari editor lain. Biasanya naskah cukup menarik, tapi kami ragu-ragu, menarik sekali atau tidak ya. Bisanya yang lolos second opinion akan mendapat kesempatan diterbitkan. Nah, sebagian besar naskah golongan ketiga ini akan mengalami banyak editing isi (fakta yang tidak menyambung) dan copyediting.
Sekarang, bagaimana trik-trik agar naskah tidak ditolak?
1. Usahakan membuat novel yang baik, yaitu novel yang bagus, menghibur, lucu, mengandung manfaat, mengandung pesan moral, yang membuat penasaran atau menimbulkan misteri dari bab awal sampai akhir, dan ditulis dengan kaidah Bahasa Indoensia yang baik (untuk novel remaja, memakai bahasa gaul sah-sah saja, asal bukan bahasa yang kasar, vulgar), diceritakan dengan gaya bahasa yang enak dibaca, tidak membosankan, dengan karakter-karakter dan cerita yang dibuat sebaik mungkin.
2. Banyak membaca berbagai jenis tulisan atau terbitan agar tahu berbagai karekter jenis terbitan. Dengan demikian kita juga tahu jenis apa yang kita tulis, tema apa saja yang sudah banyak di pasaran, dari sisi mana kita mau membeberkan kisah kita walaupun tema tersebut sudah ada. Kita harus tahu apa kekhasan roman biasa, roman misteri, fiksi Islami, teenlit, metropop.
3. Selain harus suka baca, penulis juga harus terus latihan. Misalnya satu karya kita ditolak, jangan putus asa. Biasanya editor GPU---jika diminta---memberikan alasan kenapa karya tersebut ditolak, agar calon pengarang juga tahu di mana kekurangannya. Kami katakan "jika diminta", karena kami tak mungkin menulis satu demi satu alasan untuk sekian banyak naskah yang belum memenuhi syarat atau belum lolos seleksi. Ada begitu banyak pekerjaan editor, sehingga tidak bisa semuanya kami beri komentar.
Seperti pemain piano, atau ilustrator, mereka harus terus berlatih agar supaya tidak kaku, pegitu pula penulis. Ada penulis yang baru menulis satu novel, diterbitkan, tapi lalu berhenti atau lama tidak menulis, padahal dia berbakat. Biasanya karya keduanya, yang mungkin lama baru dia tulis lagi, tidak sebagus karya yang pertama. Jadi di sini, bakat dan latihan juga menentukan. Ada pengarang kami yang menyediakan waktu dua jam dalam sehari untuk menulis. Apa saja, katanya. Jadi karya-karyanya juga terus meningkat kualitasnya.
Bagaimana sebuah karya bisa menjadi bestseller?
1. Karyanya memang bagus dan sangat disukai. Bagian mengenai disukai sudah saya uraikan di atas: judul, tema, gaya bercerita, isi cerita.
2. Kedua, ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri: faktor karunia Tuhan, yaitu keberuntungan. Keberuntungan ini bisa berbentuk: karya dengan tema tertentu datang di saat dan tempat yang tepat. Misalnya: Hilman, Esti Kinasih, Dian Nuranindya, yang mengisi kekosongan jenis cerita remaja saat itu.
3. Promosi yang bagus.Pengarang-pengarang sekarang cenderung melakukan promosi diri, membangun fans, melalui blog, friendster.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar